Mengambil keputusan adalah sesuatu yang harus dilakukan. Mau tidak mau, ikhlas tidak ikhlas.Harus dilakukan!!!!!!!!!!. Tetapi Insya Allah, keputusan yang kuambil adalah sesuatu yang terbaik untuk semuanya. Untukku, saudara-saudaraku, keluargaku, teman-temanku, sahabat-sahabatku. Pokoknya semua-muanya dech.......... Amiiiiiiiinnnnnnnn.
Ketika kamu kembali ke rumah dan merebahkan diri di atas tempat tidur, coba luangkan waktu sejenak untuk menggambarkan perempuan salehah yang menawan, yang jauh dari kemaksiatan. Kemudian, bandingkanlah perempuan tersebut dengan perempuan lain yang berakhlak buruk dan selalu melakukan hal-hal yang diharamkan agama. Demi Allah…, pikirkan. Perempuan manakah yang hidupnya lebih tenang dan lebih mantap? Manakah yang lebih utama mendapat pujian dan sanjungan?
Apakah perempuan yang bisa mengatasi hawa nafsunya dan mampu mengendalikan keinginannya, meskipun gejolak syahwat yang tiada henti mendera dirinya ataukah perempuan yang tidak mampu bertahan menghadapi godaan-godaan nafsu dan keinginan dirinya? Ini adalah pertanyaan yang muncul dengan sendirinya dan karena fakta yang ada. Mengapa perempuan ini menuai kesuksesan, sedangkan yang itu tidak?
Sungguh, aku heran ketika melihat muslimah mengikuti tren yang diinginkan oleh para musuh Islam. Ia begitu saja mengikuti dan meniru model dan gaya yang sedang tren, serta tidak peduli lagi terhadap jilbab dan rasa malunya. Setiap hari kita bisa melihat wajah baru dan warna baru dari bentuk kemaksiatan ini. Seperti itulah apa yang kami lihat.
Sesungguhnya, hal itu merupaka rekayasa terhadap jilbab dengan tujuan agar kalian tidak mengenakan jilbab dan kepala kalian terbuka. Aku tidak perlu memberikan fatwa-fatwa kepada kalian seputar apa yang menimpa kaum perempuan sekarang. Akan tetapi, perempuan muslimah yang sebenarnya adalah yang takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya. Dalam hal ini, Rasulullah bersabda
“Tinggalkan sesuatu yang meragukan bagimu kepada apa yang tidak meragukanmu”.
Hadits diatas menjelaskan bahwa berpaling dari hukum-hukum Allah tidak akan mendatangkan manfaat apa-apa, kelak di hari kiamat. Saat itu, kalian akan berjumpa dengan Allah Yang Maha mengetahui apa yang tersimpan dan tersembunyi dalam dada.
Pandanglah dirimu di dalam cermin dan lihatlah bentuk wajah yang menampakkan daya semangat hidup. Sekarang, kamu bisa menghirup udara segar. Dapat menikmati kesehatan dan tenaga yang masih kuat. Namun, pernahkah suatu kali kamu menjenguk nenekmu yang terlihat lemah, terbaring di tempat tidur dan kekuatannya telah berkurang?
Dulu, ia pernah mengalami masa muda seperti kamu, dan menjadi bunga yang menawan. Akan tetapi, sejalan dengan perputaran waktu, bergantinya tahun dan hari, bungan muda itu layu dan berdaya di bawah baying-bayang masa tua. Sirna pula masa kanak-kanak. Adapun yang tersisa, hanyalah kenangan.
Kelak beberapa tahun ke depan engkau akan menjadi nenek-nenek. Jadi, pergunakanlah waktu mudamu dengan sebaik-baiknya. Kekuatanmu di masa mudatidak akan kembali lagi. Ketika itu, yang dirasakan hanyalah penyesalan dan penyesalan
Jiwa manusia selalu menginginkan dan mencari kecantikan dan berusaha untuk menggapainya. Jika setiap sesuatu ada standar ukurannya, maka demikian pula dalam kecantikan ada juga standar ukurannya. Keindahan mata menurut kami terletak pada warna putih di matanya yang benar-benar putih, dan warna hitamnya benar-benar hitam, dalam warna putih dan hitam tersebut terdapat kelebihan tersendiri. Dan kecantikannya bukanlah terletak pada keberaniannya dalam memandang (mata yang jelalatan).
Keindahan kulitnya terdapat pada kejernihan dan putihnya, jernih bagaikan yaqut dan putih bagaikan marjan, bersinar bagaikan mutiara dalam kerang yang tidak pernah tersentuh tangan, bukan pada warna dan coraknya.
Keindahan payudara terletak pada tersembunyinya, bukan terletak pada terbukanya. Keindahan usianya terletak pada kedewasaannya, bukan kekanak-kanakan. Keindahan kesuciannya terletak pada penjagaannya, bukan pada keperawanannya yang terenggut. Keindahan cinta terletak pada ketaatan yang sempurna, tidak ambisius terhadap selain yang dicintainya, dan tidak ridha kecuali kepada suaminya. Bukan terletak pada jumlah yang dicintainya. Sinar kecantikan yang sebenarnya itu antara langit dan bumi ketika matahari terbit, bukan pada kecantikan yang dibuat-buat (imitasi) dan kemanjaan palsu. Itulah sebagian dari ukuran standar kecantikan menurut kami dan itulah yang diinginkan oleh jiwa kita.
“Aku adalah seorang gadis yang telah tunangan beberapa waktu yang lalu. Aku telah menentukan batas-batas tertentu yang tidak boleh dilanggar oleh tunanganku, meskipun dia berusaha melakukan hal tiu dengan alasan bahwa kami sudah hampir menikah. Aku melakukan hal itu setelah mengetahui dari saudara laki-lakiku bahwa kaum lelaki tidak akan menghormati seorang gadis yang mau melakukan hal-hal yang kurang etis, meskipun dengan tunangannya sendiri. Aku kemudian bertanya kepadanya: “Lalu bagaimana dengan gadis yang engkau cintai? Secara kebetulan aku pernah mendengarkan kamu berbicara kepadanya dengan kata-kata yang kurang etis, yang kemudian menunjukkan bahwa dia terlalu ‘murahan’ terhadapmu”. Jawaban yang dia berikan ternyata sangat mengejutkan: “Tentu saja aku tidak akan menikahinya karena aku tidak yakin bahwa dia tidak akan mengulangi hal itu dengan lelaki lain setelah menikah nantinya. Lebih-lebih, aku juga tidak merasa yakin bahwa dia tidak melakukan hal itu dengan lelaki lain sebelum aku”. Maka kemudian aku berkata kepadanya: “Ini jelas tidak adil karena kamulah yang telah mendorongnya untuk melakukan hal itu”. Dengan santai dia menjawab: “Tidak ada lelaki yang mau mendorong seseorang gadis untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkannya. Karena dia telah menginginkan hal itu, maka dia harus membayar harganya. Aku bersumpah bahwa sebenarnya aku hendak meminangnya seandainya saja dia tetap ngotot untuk mempertahankan prinsipnya”. Akhirnya terjadilah perdebatan panjang antara kami. Masing-masing kami ngotot untuk mempertahankan pendapatnya. Yang mana, hal itu membuatku bertanya-tanya: “Apakah seorang lelaki perlu menguji kita beberapa kali untuk meyakinkan apakah kita akan mampu mempertahankan akhlak yang kita miliki, baik sebelum maupun sesudah tunangan atau tidak? Apakah para gadis remaja menyadari hal itu sehingga mereka tidak menganiaya dirinya sendiri?”. Akhirnya aku merasa tersinggung dengan perlakukan tunanganku itu, menentangnya dan memintanya agar tidak mengulangi perbuatannya tersebut. Terus terang, sampai sekarang aku belum mengerti logika kaum lelaki”
Saya mendukung anda yang tidak suka dengan lelaki yang mendesak seorang gadis untuk melakukan hal-hal yang kurang etis, kemudian setelah itu dia meninggalkannya karena gadis itu mau menuruti kata-katanya. Saya menganggap hal itu sebagai salah satu bentuk penipuan yang dilarang oleh agama. Selain itu, tindakan seperti itu juga bisa dikategorikan sebagai tindakan provokasi untuk melakukan hal-hal yang diharamkan. Tidak diragukan lagi bahwa diakhirat nanti mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal. Lebih-lebih, mereka juga tidak akan bisa merasakan kebahagiaan di dunia ini. Karena, saking seringnya bersinggungan dengan para gadis yang tidak berakhlak, mereka akhirnya tidak percaya lagi kepada para gadis yang ditemuinya. Mereka bisa saja telah kecanduan dengan kepuasaan haram sehingga mereka tidak bisa menikmati hidup ini. Kemudian, diakhirat nanti dia akan menerima siksa yang amat pedih.
Meskipun saya benar-benar mengerti hal itu, bukan berarti saya telah membebaskan para gadis dari tanggung jawab mereka. Selama seorang gadis merelakan dirinya dijadikan korban atau makanan empuk para lelaki, maka dia juga tidak pantas untuk dihormati lelaki manapun di dunia ini. Masing-masing kita tentunya bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Tidak ada gadis yang tidak mengetahui hal itu. Yang ada hanyalah gadis yang menipu dirinya sendiri dan menyerah pada kelemahan yang dimilikinya, kemudian membenarkannya dengan alasan cinta. Padahal, cinta tidak turut campur dalam masalah itu. Karena sebuah cinta akan selalu didasarkan pada perasaan saling menghormati, dan pemuda yang mencintai seorang gadis tidak akan meminta sesuatu yang bisa menginjak-injak kehormatan itu, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Dia akan senantiasa menahan diri sehingga dia tidak menyakiti gadis yang dicintainya serta menyimpan seluruh perasaan yang dimilikinya sampai dia benar-benar menikahinya dan semuanya menjadi halal baginya.
Bukan merupakan pembelaan terhadap kaum lelaki jika kita mengatakan bahwa para lelaki juga berhak menguji gadis yang dicintainya atau tunangannya sehingga dia benar-benar yakin bahwa pilihannya tidak salah, setelah jumlah gadis yang polos semakin bertambah banyak. Kita tidak bisa menyebut mereka sebagai gadis yang kurang ajar yang telah menghinakan dirinya sendiri, karena pada dasarnya mereka beranggapan bahwa dengan mengalah seperti itu mereka akan mampu mengendalikan para lelaki. Mereka tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak jauh berbeda dengan orang yang menggenggam air dengan jari-jarinya, kemudian air itu merembes dari tangannya, sementara mereka tidak menyadarinya. Mereka rupanya juga tidak menyadari bahwa sebuah pernikahan akan semakin jauh dari seorang gadis selama dia semakin banyak mengalah atau mau melakukan pengorbanan-pengorbanan. Inilah yang perlu diketahui oleh semua gadis remaja, dan dikabarkan kepada teman-teman perempuannya dengan cara yang halus dan lembut. Karena, ini adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri lagi dan sudah diakui semua lelaki. Banyak sekali gadis remaja yang terjebak ke dalam lembah kehinaan karena tidak menghiraukan hal itu.