Sebagian kita sangat mungkin sudah memetakan sosok ideal pasangan kita. Sosok ideal itu sudah melekat erat dibenak. Sehingga teramat susah bagi kita untuk menghilangkannya. Bahkan, sebagian kita biasanya telah memiliki idealisme sendiri tentang pasangan, jauh hari sebelum pernikahan tiba. Idealisme itu begitu menguasai pikiran dan jiwa hingga terus terbawa hingga mereka menikah. Dan setelah menikah ternyata pasangan yang diidamkan tidak sama dengan kenyataannya. Sungguh jauh berbeda dengan sosok ideal yang selama ini dia impikan. Akhirnya, dia kecewa dan kemudian cenderung menyalahkan keadaan atau pihak lain.
Tidak ada yang salah dengan idealisme yang kita pasang, termasuk idealisme tentang kriteria pasangan. Namun sayangnya, banyak dari kita yang berpikir bahwa suatu idealisme dapat turun begitu saja dari langit dan menjelma dihadapan kita. Padahal hal itu tidak mungkin terjadi karena idealisme harus diperjuangkan. Apapun judul idealisme itu, tetap membutuhkan perjuangan.
Saya banyak menemukan teman-teman yang mengira dengan menikahi seorang perempuan berjilbab semua urusan menjadi beres, kehidupan rumah tangga menjadi harmonis, tidak ada halangan dan rintangan, pokoknya sangat menyenangkan. Mereka tidak pernah membayangkan adanya suatu konflik yang heboh dan besar. Mereka juga tak pernah bermimpi bahwa rumah tangga mereka akan berpotensi mendapatkan masalah ditengah jalan. Angan-angan akan indahnya rumah tangga membuat lupa dan tidak waspada. Hingga akhirnya mereka kecewa. Tidak ada manusia yang terlepas dari salah dan dosa. Semua manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, tidak ada manusia yang pada dirinya hanya terdapat kelebihan saja, sebagaimana tidak ada manusia yang didalam dirinya hanya ada kekurangan.
Laki-laki maupun perempuan adalah manusia biasa. Komitmen dan ketaatan mereka dalam beragama adalah suatu bentuk kesungguhan mereka dalam memproses diri menjadi hamba Allah yang bertakwa. Dan merupakan hal yang sangat manusiawi jika dalam menjalani proses tersebut terdapat kekurangan-kekurangan. Karenanya, bila mereka tidak sempurna, maka hal itu adalah bagian dari sisi kemanusiaan mereka ”No body perfect”.