Dira telah tamat dari perguruan tinggi. Sebagai seorang sarjana yang telah memiliki pekerjaan tetap, ia memiliki masa depan yang cerah. Usianya yang sudah menghampiri tiga puluhan membuat ayahnya agak gusar, mengapa ia belum berniat berkeluarga.
“Mengapa kau belum berani menikah?” tanya ayahnya.
“Menikah itu gampang,”jawab Dira,” orangnya yang susah.”
“Begitu banyak gadis cantik, masa tidak ada yang cocok dengan hatimu?”
“Sukar-sukar gampang,”jawabnya sambil tersenyum.
“Kalau terlalu banyak syarat, barangkali. Kalau ibumu benar, kau ingin gadis tinggi semampai, cantik dan cerdas, pandai menyesuaikan diri dan mampu memasak. Benarkah?”
“Ya, ya. Itu betul. Habis Ibu selalu mendesak sih.”
“Tentu sukar dong mencari gadis ideal begitu.”
“Paling sedikit lebih cantik dari Ibu, lebih tinggi dari Ibu, lebih pintar dari Ibu….Hahahahaaaaa.”
“Jadi kau berniat mengalahkan Ayah dan Ibumu?”
“Idealnya begitu, bukan? Masa Ayah senang melihat anaknya lebih rendah? Kalau ayah mayor, anak boleh juga mayor jenderal bukan?
“Bagus! Bagus sekali keangkuhanmu itu! Tetapi itu, syaratmu itu. Soal lahiriah janganlah yang pertama. Kalau istrimu terlalu cantik, kau akan menemukan kesulitan nanti. Semua orang akan memuji-muji istrimu dan memperhatikannya kemana saja pergi. Apakah itu tidak menyulitkanmu nantinya? Apalagi kalau orang mengatakan istrimu seksi, wah. Gawat. Bisa-bisa kau akan camburu setiap hari dan bertengkar sepanjang waktu…..”
“Nah Ayah. Coba kita bicara secara terbuka.”
“Ya, ya. Ayah senang sekali sikap yang demikian, daripada kau bertindak aneh-aneh di belakang, baiknya berterus terang.”
“Orang mengatakan bahwa kebahagiaan diperoleh karena bentuk lahiriah yang indah. Kalau semua serba cantik dan seksi, kita tidak akan memikirkan kecantikan orang lain lagi, bukan? Dimana-mana saya melihat hanya gambar-gambar cantik saja yang ditonjolkan, tidak ada yang jelek atau sedang-sedang saja. Begitu pula surat-surat kabar lebih banyak memuat masalah seks, pertanyaan mengenai hubungan suami-istri, seminar-seminar mengenai seks yang mendapat perhatian yang cukup besar. Gejala ini menunjukkan bahwa yang cantik dan seksi saja yang mendatangkan kebahagiaan dalam keluarga ….”
“Kau sependapat dengan hal itu?”
“Begitulah menurut pengamatanku, Ayah. Karena di sekolah belum diajarkan masalah seks, pengetahuan saya tentang seks sebatas apa yang dikatakan orang disurat kabar dan seminar-seminar.”
“Kau toh sarjana. Kau dapat belajar sendiri.”
“Gelar tidak ada kaitannya dengan pengetahuan seks karena belum ada perguruan tinggi yang menyelenggarakan jurusan seks, seksologi misalnya,” kata Dira sambil tertawa.
“Seks bukanlah satu-satunya sumber kebahagiaan, anakku. Perkawinan yang didasarkan pada seks belaka tidak akan dapat bertahan lama. Cobalah perhatikan pasangan yang ‘terpaksa’ menikah karena sudah hamil duluan, lebih banyak diwarnai pertengkaran dan penyesalan, curiga dan kehancuran. Kau tahu angka kegagalan, kehancuran di kalangan pasangan usia muda? Tinggi sekali! Ungkapan-ungkapan seks, letupan-letupan emosi yang tidak sehat, mudah menguap dan meninggalkan bekas yang tidak nyaman. Coba perhatikan kasus perkosaan. Perkosaan ini lebih banyak terjadi di kalangan orang yang berpacaran dan hanya memikirkan kebahagiaan dan kenikmatan diperoleh dalam seks.
“Saya tidak mengerti mengapa kau tidak mengembangkan persahabatan di antara gadis-gadis yang kau minati. Sebaiknya kau bergaul dengan banyak gadis, bersahabat dengan mereka. Cobalah kembangkan rasa persahabatan dengan mereka, karena persahabatan inilah unsur utama kebahagiaanmu. Kalau kau dapat bersahabat dengan banyak wanita yang baik-baik, kau akan menemukan kebahagiaan dan mampu menentukan pilihan, sahabat mana yang paling mengesankan bagimu dan patut dijadikan sahabat seumur hidupmu!”
“Kalau kau percaya, keindahan persahabatan meliputi makna yang paling langgeng, karena didalamnya terkandung rasa hormat-menghormati. Suami-istri yang diwarnai sikap hormat-menghormati akan merasa berbahagia karena suasana ini menimbulkan rasa percaya satu sama lain, mengembangkan rasa kebersamaan, simpati dan dorongan. Persahabatanlah yang membuka pintu kemesraan, kemesraan dalam keyakinan, keakraban, kasih sayang dan melakukan komunikasi yang wajar. Orang yang sahabat kental dan saling mempercayai, tidak akan mau menyakiti dan merendahkan, justru itulah yang menolong dalam keadaan susah. Persahabatan melahirkan sikap mau mengerti orang lain, tidak mau merugikan sahabatnya demi kepentingan diri sendiri, membangun sikap terus terang yang menguntungkan. Sahabat yang baik itu akan abadi, Nak!”
“Ayah menyindir saya, ya?”
“Bukan. Menganjurkan kau supaya jangan hanya memikirkan kariermu saja. Uang, kedudukan, seks, bukanlah unsur utama kebahagiaan. Hatimu yang rela berbagi rasa dengan orang lain, itu yang utama. Yang disebut pertama itu perlu, tetapi bukan paling utama!”
“Tetapi saya tidak mau membuat anak orang lain sengsara. Demi kebahagiaanku.”
“Baik, Nak. Jangan ajak orang lain sengsara. Pupuklah persahabatan sampai ia mengerti siapa kau yang sebenarnya, dan kaupun tau persis siapa dia. Jika kau dapat membina persahabatan yang jujur dengan gadis yang kau senangi, ia pun akan menunjukkan sikap yang tulus kepadamu. Jangan terperangkap dengan cinta buta. Artinya, kau jangan menikah dengan seorang gadis karena seksi sekali dan rasa ingin memilikinya menggebu-gebu dalam dadamu, dan kawin dengan tergesa-gesa! Dalam persahabatan segala sesuatu sudah dirangkum. Kemunafikan akan terbuka, polesan akan terungkap, dan akhirnya kaupun tidak akan menyesal menerima orang apa adanya. Tentu tidak ada gadis atau lelaki yang sempurna diatas dunia ini (No body Perfect). Namun demikian, pengertian yang mendalam diperoleh melalui persahabatan, pengenalan yang tuntas, sehingga resiko yang buruk dapat diantisipasi lebih dahulu. Tentu dalam perkawinan tentu ada ketidaksesuaian, tetapi kau dapat menekannya sebagai seorang sahabat istrimu, bukan sebagai suami yang menuntut ini dan itu. Carilah sahabat sebanyak-banyaknya dan sesudah itu pilihlah sahabat yang terbaik dan cocok bagimu, kemudian tetapkan tujuanmu, berlayar dengan biduk menuju lautan yang bergelora, dengan dua pendayung di kiri dan kanan. Tanpa pendayung yang seirama, pelabuhan tidak akan pernah dapat dicapai ….”
“Dira manggut-manggut. Ia merasa menyesal mengapa ia terlalu takut bergaul dengan gadis-gadis, karena ia merasa khawatir mengecewakan mereka dalam persahabatan yang tidak berakhir dengan pernikahan. Masih terngiang dalam benaknya ucapan ayanhnya,”Pernikahan bukanlah pemuasan seks, dan seks bukanlah pondasi kebahagiaan paling utama ….”.
Dikutip dari buku “Seraut Wajah Pernikahan”.